KARAWANG | KABARPRESISI — Di balik tembok kokoh Lembaga Pemasyarakatan, semangat kemandirian terus dipupuk. Bukan hanya melalui pembinaan kepribadian, tetapi juga program produktif yang menghadirkan manfaat nyata bagi warga binaan, institusi, hingga masyarakat luas. Komitmen itu terwujud dalam kunjungan kerja Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Yudi Suseno, ke Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kelas IIA Karawang, Senin (22/6).
Didampingi Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo, beserta jajaran, Yudi Suseno menelusuri setiap sudut kawasan SAE yang kini bertransformasi menjadi pusat pembinaan berbasis kemandirian. Kunjungan diawali dengan peninjauan peternakan Ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan)—komoditas unggulan Lapas Karawang. Di lokasi tersebut, Yudi berdialog dengan petugas mengenai sistem pemeliharaan, produktivitas ternak, hingga pengembangan populasi sebagai bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.
Perjalanan berlanjut ke peternakan domba dan sapi. Yudi Suseno mengamati langsung proses pemeliharaan ternak yang berjalan secara terintegrasi dan berkesinambungan. Baginya, keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya diukur dari jumlah ternak, tetapi dari bagaimana seluruh proses itu menjadi media pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan bernilai saat kembali ke masyarakat.
Perhatian khusus juga diberikan pada Bank Pakan—sebuah inovasi penunjang keberlangsungan peternakan. Melalui pengelolaan pakan mandiri, Lapas Karawang membangun sistem peternakan yang efisien, berkelanjutan, dan tidak bergantung sepenuhnya pada pasokan luar. Yudi menilai langkah tersebut sebagai bentuk inovasi yang patut diapresiasi karena mampu memperkuat keberlanjutan program ketahanan pangan.
Kunjungan dilanjutkan ke ruang penetasan telur, tempat proses awal kehidupan dimulai dengan teknologi sederhana namun efektif. Dengan antusias, Yudi menyaksikan proses inkubasi telur hingga menjadi bibit unggul yang akan memperkuat populasi peternakan ayam di lingkungan lapas. Ia menilai pengembangan unit penetasan membuktikan bahwa Lapas Karawang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga membangun sistem pembinaan berkesinambungan dari hulu hingga hilir.
Tidak berhenti di sektor peternakan, rombongan juga meninjau area perikanan budidaya Nila Nirwana—sektor unggulan dalam diversifikasi program ketahanan pangan. Deretan kolam budidaya yang tertata rapi menunjukkan keseriusan Lapas Karawang mengembangkan sektor perikanan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Yudi tampak berdiskusi mengenai metode pemeliharaan, kualitas bibit, hingga strategi pengembangan budidaya agar memberikan hasil optimal.
Di sela-sela peninjauan, Yudi Suseno menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Lapas Kelas IIA Karawang atas dedikasi dan inovasi dalam mengembangkan Sarana Asimilasi dan Edukasi.
“SAE bukan sekadar lokasi budidaya peternakan maupun perikanan, tetapi laboratorium pembelajaran yang membentuk karakter warga binaan agar menjadi pribadi yang produktif, bertanggung jawab, dan siap berkontribusi di tengah masyarakat,” ujarnya.
“Program ketahanan pangan di Lapas Karawang memperlihatkan bahwa pembinaan dapat diwujudkan melalui kerja nyata. Di sini, warga binaan tidak hanya belajar beternak atau membudidayakan ikan, tetapi juga belajar disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Inilah wajah pemasyarakatan sesungguhnya—membina manusia agar kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” tegas Yudi.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo, menegaskan bahwa pengembangan SAE Ketahanan Pangan merupakan komitmen Lapas Karawang dalam mendukung program akselerasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya di sektor ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian.
“Kami ingin memastikan setiap program pembinaan memberikan pengalaman nyata dan keterampilan aplikatif. Melalui SAE, warga binaan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun etos kerja, tanggung jawab, dan kepercayaan diri sebagai bekal saat kembali ke masyarakat. Ketahanan pangan yang kami bangun hari ini adalah investasi untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik di masa depan,” ungkap Ma’ruf.
Kunjungan kerja ini menjadi bukti nyata bahwa transformasi pemasyarakatan tidak hanya diwujudkan melalui peningkatan pelayanan dan keamanan, tetapi juga penguatan program produktif yang berdampak langsung bagi pembinaan. Dengan mengintegrasikan peternakan, perikanan, hingga pengelolaan pakan dalam satu ekosistem SAE, Lapas Kelas IIA Karawang menunjukkan bahwa dari balik tembok pemasyarakatan dapat tumbuh inovasi, kemandirian, dan harapan baru.
Lebih dari sekadar meninjau fasilitas, kehadiran Kepala Kantor Wilayah menjadi suntikan semangat bagi seluruh jajaran Lapas Karawang untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas pembinaan. Sebab, setiap kandang terawat, setiap kolam menghasilkan, dan setiap proses pembelajaran di SAE bukan hanya tentang ketahanan pangan—melainkan tentang menyiapkan manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana. Dari Sarana Asimilasi dan Edukasi inilah harapan ditumbuhkan, keterampilan dibangun, dan masa depan dipersiapkan dengan penuh optimisme.($@n)











