KARAWANG | KABAR PRESISI – Ada momen yang tak terduga di balik kunjungan Irfan Hakim ke LASKAR Farm Lapas Kelas IIA Karawang. Setelah menyusuri kandang-kandang ternak dan berdialog dengan warga binaan di area peternakan, artis dan pegiat peternakan itu melanjutkan langkahnya ke masjid lapas. Di sanalah, suasana berubah hening. Haru menyergap. Tangis pecah.
Ya, Irfan Hakim menangis. Ia bersimpuh, menundukkan kepala, dan memanjatkan sujud syukur yang lama. Bukan karena sedih, melainkan karena tersentak oleh sebuah kesadaran yang begitu dalam. Di hadapan para warga binaan yang berkumpul di masjid, ia tak kuasa menahan getaran hati.
”Fa bi ayyi ala irobbikuma tukadzib…”
”Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan?”
Kalimat itu mengalir dari bibir Irfan dengan suara bergetar. Bukan sekadar lantunan ayat, melainkan renungan yang menusuk jiwa. Ia memandangi wajah-wajah di hadapannya para warga binaan yang sedang menjalani hukuman dan berkata dengan penuh ketulusan:
”Setidaknya mereka sedang menjalani hukuman di dunia, dan mereka ada kesempatan untuk bertobat. Yang bahaya itu justru yang melakukan kesalahan tapi tidak tertangkap di dunia. Pertanggungjawabannya di akhirat. Kita jangan merasa bersih, guys.
Mungkin kita sebetulnya lebih kotor dari mereka, tapi Allah masih menutup aib kita. Sedangkan mereka sedang dibukakan aibnya. Dan mungkin ini adalah keberuntungan karena mereka bisa dibersihkan sejak di dunia.”
Suasana masjid semakin hening. Beberapa warga binaan terlihat menunduk, ada pula yang mengusap sudut mata. Irfan melanjutkan dengan nada yang semakin dalam:
”Di dalam sini banyak yang jadi penghafal Quran. Ada tobat, ada perubahan. Kita kadang-kadang yang merasa tidak tersentuh, melakukan lebih banyak kesalahan di akhirat. Maka nikmat Allah mana lagi engkau dustakan?”
Ia lalu menoleh kepada Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma’ruf Prasetyo, yang turut hadir mendampingi. Dengan mata berkaca-kaca, Irfan menyampaikan kekagumannya terhadap program pembinaan spiritual di lapas tersebut.
Menanggapi hal itu, Ma’ruf Prasetyo pun angkat bicara. Dengan tenang namun penuh makna, ia mengungkapkan betapa besarnya perjuangan warga binaan dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
”Mereka sendiri sudah bingung menghitung berapa langkah yang sudah mereka langkahkan ke masjid dari kamar hunian. Setiap hari, setiap langkah dihapus satu kesalahan, setiap langkah ditambah satu kebaikan. Hidayah dan pengalaman spiritual bisa datang dari mana pun.
Tidak hanya di masjid, tidak hanya di tempat suci. Bahkan di tempat yang oleh banyak orang dianggap kotor atau hitam di dalamnya kita bisa mendapatkan cahaya yang terang benderang.”
Ma’ruf tersenyum bijak. “Semua tempat adalah sekolah. Semua orang adalah guru,” pungkasnya, Minggu (19/07/2026).
Irfan pun mengakhiri renungannya dengan pesan yang menggugah:
”Kita yang di luar, kadang-kadang enggak berguna, enggak bermanfaat. Maka nikmat Allah mana lagi engkau dustakan? Bebas, tapi jangan sebebas-bebasnya. Maksimalkan supaya bermanfaat. Jangan bosan. Karena di luar sana pun, kita belum tentu lebih baik dari mereka.”
Tangis Irfan Hakim di masjid Lapas Karawang bukanlah tangis lemah. Itu adalah tangis kesadaran. Bahwa tembok tinggi dan jeruji besi tak pernah menjadi penghalang bagi cahaya untuk masuk. Bahwa mereka yang dipenjara oleh hukum dunia justru mungkin lebih bebas hatinya daripada mereka yang merasa bebas di luar.
Dari masjid Lapas Karawang, dari sujud syukur Irfan Hakim, dan dari kata-kata bijak Ma’ruf Prasetyo, terpancar satu kebenaran: tempat paling gelap sekalipun bisa menjadi ruang paling terang untuk bertemu dengan Yang Maha Kuasa.($@n)











