‎Lapas Karawang Bukan Sekadar Penjara: Di Sinilah Irfan Hakim Menangis dan Aba Hura Menemukan Rumah

banner 500x300

KARAWANG | KABARPRESISI – Ada tangis yang pecah di masjid Lapas Kelas IIA Karawang. Ada sujud syukur yang dipanjatkan Irfan Hakim di antara para warga binaan. Namun perjalanan emosional itu belum berakhir.

‎Setelah merenung di tempat ibadah, Irfan melanjutkan dialognya dengan Kepala Lapas, Ma’ruf Prasetyo, dan mendengar kisah-kisah yang membuat dadanya sesak sekaligus hangat oleh haru.

‎Di sudut lain LASKAR Farm, Irfan bertemu dengan seorang warga binaan yang tengah menjalani pelatihan barista. Dengan mata berbinar, pria itu mengaku bahwa sebelum masuk lapas, ia tak bisa apa-apa.

Namun di tempat ini, ia belajar dari nol. Kini, tangannya terampil meracik kopi, dan senyumnya merekah penuh kebanggaan.

‎”Alhamdulillah,” ucapnya lirih, dengan suara bergetar oleh rasa syukur, Minggu (19/07/2026).

‎Irfan Hakim pun menoleh ke Ma’ruf Prasetyo. Sambil tersenyum haru, ia menyampaikan sesuatu yang tak terduga. “Banyak juga pengalaman, Pak. Yang udah dibina, disuruh keluar ada yang enggak mau. Iya kan? Malahan ada yang mau mengabdi saja. Mungkin dia keburu cinta, ya. Mungkin di sini dimanusiakan.”

‎Kalapas Karawang itu mengangguk. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia menceritakan kisah Aba Hura seorang warga binaan yang sebentar lagi bebas.

‎”Dia sudah pamit. Tapi setelah pulang, dia mau kesini lagi. Ngurusin sapi. Ada orangnya tuh,” ujar Ma’ruf dengan suara bergetar. “Di situ kami terharu. Karena di sini, lapas ini sudah dianggapnya sebagai keluarga besar.”

‎Irfan terhenyak. Ia meminta Aba Hura dipanggil mendekat. Pria sederhana itu pun melangkah dengan malu-malu. Dengan polos dan terus terang, Aba Hura berkata, “Saya ditahan tiga tahun, Pak. Saya pingin disini terus. Karena di luar gak ada kerjaan. Bingung. Jadi mendingan disini.”

‎Kalimat itu seperti pukulan langsung ke ulu hati. Irfan tak kuasa menahan haru. Ia mendekat, merangkul Aba Hura erat, memeluknya hangat. Diam-diam, beberapa petugas dan warga binaan lain menyeka sudut mata.

‎Irfan lalu menoleh kembali ke Ma’ruf Prasetyo dengan pertanyaan yang menggugah: “Jadi memang bisa direkomendasikan, ya, Pak?”

‎”Betul,” jawab Kalapas tegas. “Kami sudah kasih premi. Kami kasih kopi, rokok, makan bareng, kumpul di sini bareng. Mereka bukan nomor. Mereka keluarga.”

‎Irfan mengangguk pelan, lalu berkata dengan penuh kesadaran:

‎”Kalau di luar, kadang-kadang masih dipandang sebelah mata, dihinakan. Jadi kalau ada tetangga, saudara, kerabat, lingkungan yang pernah, istilah kasarnya, di penjara yang pernah dibina di lapas, maka kasih kesempatan untuk hidup lagi. Hidup yang kedua. Karena imej di luar, kadang sudah dipandang jelek.”

‎Dalam kunjungannya kali ini, Irfan Hakim tak hanya datang sebagai artis, bukan pula sekadar pegiat peternakan. Ia datang sebagai manusia yang mau melihat. Mau merasakan. Dan yang ia temukan di balik jeruji bukanlah kepahitan melainkan keberanian untuk memulai lagi.

‎Dari LASKAR Farm, dari pelukan hangat antara Irfan Hakim dan Aba Hura, dari kata-kata bijak Ma’ruf Prasetyo yang mengatakan “di sini mereka keluarga besar”terpancar satu pesan abadi: tempat yang dianggap paling kelam sekalipun bisa menjadi rumah bagi cahaya. Dan mereka yang pernah terjatuh, layak diberi kesempatan untuk berdiri kembali.($@n)

banner 500x300
Baca Juga :  ‎Tangis dan Sujud Syukur Irfan Hakim di Lapas Karawang, Ini Kata Kata Bijak Kalapas
Penulis: M.HasanEditor: M.Hasan