Wagub Emil Dardak dan Ketua Amdatara Jatim Mulyono Wibisono Sepakat Dorong EPR dan Konservasi Sumber Air

banner 500x300

SURABAYA | KABARPRESISI – Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Jawa Timur menghadapi tantangan ganda: tuntutan pertumbuhan ekonomi di satu sisi, dan kelestarian lingkungan di sisi lain.

‎Persoalan ini mencuat dalam pelantikan pengurus DPD Amdatara (Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Nusantara) Jawa Timur sekaligus talk show dan workshop di Surabaya, Kamis (10/9/2026).

‎Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, meminta produsen AMDK tidak hanya mengejar keuntungan dan air baku.

‎”Bukan sekadar mengedepankan keuntungan dan air baku,” tegasnya.

‎Ia menyoroti persoalan botol polyethylene terephthalate (PET) yang kerap menjadi masalah lingkungan. Solusinya, perluasan extended producer responsibility (EPR) bagi produsen AMDK.

‎”Kami meminta agar tidak fokus pada botol saja. Botol itu ada tutup dan kemasan. Kadang kemasan itu terlepas, kadang sengaja dilepas. Saya minta tolong, agar kemasan juga diperhatikan, karena ini penting,” urai Emil.

‎Emil juga mengajak Amdatara menjadi pelopor gerakan konservasi di sekitar reservoir dan kawasan hutan sumber air baku, dengan melibatkan warga secara sosiologis.

Baca Juga :  ‎PROGIB Jatim Gelar Rakor, Matangkan Persiapan Rapimnas 2027 dan Strategi Politik Menuju 2029

‎Tantangan ini dijawab Mulyono Wibisono yang baru saja dilantik sebagai Ketua Umum DPD Amdatara Jawa Timur. Pria yang akrab disapa Mas Wibi ini juga  menyiapkan organisasi sebagai rumah besar pendukung program pemerintah.

‎”Kami telah menyiapkan sejumlah agenda prioritas yang meliputi pendampingan sertifikasi SNI dan halal, program konservasi air, pengembangan ekonomi sirkular, sampai Net Zero Emission,” ujar pria asal Kabupaten Pasuruan itu.

‎Dalam waktu dekat, ia berkomitmen menjadikan produk AMDK menuju green industry dan berdaya saing tinggi di Jawa Timur.

‎Guru besar ekonomi Universitas Airlangga, Deni Kusumawardani, yang hadir sebagai pembicara menilai persoalan industri AMDK cukup kompleks.

‎Tiga hal ia soroti: lonjakan harga bahan baku plastik 25-50 persen, Permen LHK 75/2019 yang mewajibkan 50 persen konten daur ulang, dan Permenperin 62/2024 tentang SNI wajib bagi produsen AMDK. “Ini bisa menjadi tantangan bagi pelaku usaha,” ujar Deni.

Baca Juga :  Polres Pasuruan Fasilitasi Komunikasi Korban dan Penyidik Terkait Kasus Laka Lantas 2017

‎Deni juga menyoroti tumpukan sampah yang mencapai 7 juta ton dan belum tuntas penanganannya. Padahal industri makanan dan minuman di Jawa Timur menyumbang PDRB industri pengolahan hingga 41,1 persen.

‎Green industry yang digadang Amdatara Jawa Timur diharapkan menjadi jawaban atas dukungan terhadap pemerintah, sekaligus peta jalan keberlanjutan usaha dan lingkungan.

‎Data yang disampaikan Emil menunjukkan jumlah produsen AMDK di Jawa Timur tembus 281 dari total 700 perusahaan di Indonesia. Sekitar 70 persen di antaranya berskala industri kecil menengah (IKM), ditandai banyaknya pesantren, koperasi, hingga organisasi massa yang bergerak di bidang ini.

‎Dalam paparannya, Wibi memaparkan agenda prioritas DPD Amdatara Jawa Timur ke depan: memperkuat organisasi dan memperluas keanggotaan, meningkatkan kapasitas anggota melalui pelatihan dan workshop berkelanjutan, mendukung implementasi SNI, halal, dan regulasi industri, mendorong program konservasi sumber daya air, mengembangkan program ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah kemasan, memperkuat advokasi industri bersama pemerintah daerah dan pusat, serta mendorong transformasi industri menuju Green Industry dan Net Zero Emission.

Baca Juga :  ‎Tak Cuma Kirab dan UMKM Berkah, di Orwet Ada Saweran Kambing! Harianto dari Rokunci Bikin Kejutan di HUT RI ke-81

‎”Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan yang menjadi nilai utama AMDATARA, saya yakin Jawa Timur akan menjadi salah satu motor penggerak kemajuan industri AMDK nasional,” ujar Wibi.

‎Ia mengajak seluruh anggota membangun Amdatara Jawa Timur yang solid, profesional, dan visioner.

‎”Mari kita jadikan AMDATARA Jawa Timur bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai rumah besar bagi seluruh pelaku industri AMDK untuk tumbuh bersama, berinovasi bersama, dan bergerak bersama menuju Green Industry yang berdaya saing dan berkelanjutan,” pungkasnya.($@n)

banner 500x300
Penulis: M.HasanEditor: M.Hasan