PASURUAN | KABAR PRESISI – Hari Selasa yang seharusnya menjadi awal rutinitas mencari nafkah, justru berubah menjadi hari paling kelam bagi Bapak Tamon, warga Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, ia harus menerima kenyataan pahit: sepeda motor satu-satunya, yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan keluarganya, raib digondol maling di depan Pondok Pesantren Dalwa, yang terletak di Desa Pandean, Kecamatan Rembang.
Sebuah kehilangan yang bukan sekadar benda, tapi lenyapnya harapan untuk menyambung hidup.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Pak Tamon, yang kesehariannya bekerja sebagai pengumpul rosokan (barang bekas) keliling, memarkirkan sepeda motor kesayangannya di area depan ponpes.
Ia hanya meninggalkan kendaraannya selama sembilan menit waktu yang sangat singkat namun saat kembali, motor itu sudah tak lagi di tempat. Hilang tanpa jejak, seolah ditelan bumi.
Tamon, seorang suami dan ayah yang menjadi tulang punggung keluarga, kini hanya bisa terdiam. Dalam kesehariannya, ia berkeliling kampung dengan sepeda motor itu untuk mengumpulkan rosokan, menjualnya, dan menyisihkan rupiah demi rupiah untuk kebutuhan dapur.
“Motor itu segalanya. Buat cari rosokan, buat antar barang, buat hidup. Begitu hilang, aku enggak bisa kerja. Aku bingung mau mulai dari mana lagi,” ucapnya terbata-bata, dengan mata sembab, saat dikonfirmasi oleh awak media Kabarpresisi.com di lokasi kejadian.
Dengan sisa tenaga, Tamon mengaku belum melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian ataupun ke mana pun. Bukan karena tidak mau, melainkan karena rasa putus asa yang begitu berat menghimpit dadanya.
Namun di balik keputusasaannya, ia masih menyimpan harapan kecil harapan yang nyaris padam agar sepeda motor itu bisa kembali.
“Kalau bisa kembali, saya janji akan lebih hati-hati. Itu satu-satunya jalan saya buat cari rezeki buat anak dan istri di rumah,” pungkasnya lirih.
Kisah Pak Tamon menjadi potret pilu tentang betapa rapuhnya kehidupan seorang pencari nafkah di tengah keterbatasan. Sepeda motor tua yang mungkin tak lagi bernilai tinggi di mata orang lain, baginya adalah mahkota kehidupan.
Kini, ia hanya bisa berjalan kaki menyusuri jalanan berdebu, menahan sesak di dada, sambil berharap keajaiban datang kembalinya motor yang menjadi tumpuan hidup dan asa keluarganya. (Huri)
Nahas! Sepeda Motor Pengumpul Rosokan Hilang, Pak Tamon Kini Tak Bisa Bekerja











