PASURUAN | KABAR PRESISI – Suasana haru bercampur syukur menyelimuti Café Ay di Dusun Karangtengah, Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Minggu (14/6/2027) malam. Di tengah aroma kopi dan gula jawa yang khas, puluhan pasang tangan menengadah dalam hening yang terasa lama.
Bukan sekadar tasyakuran biasa. Malam itu adalah perayaan hidup Darti, istri tercinta dari bendahara Ketabipan PW PSNU Jawa Timur, Sutarji yang akrab disapa Aba Tarji, genap berusia 45 tahun.
Pemilihan lokasi di sudut teduh kafe pedesaan itu sengaja dilakukan Aba Tarji. Baginya, tasyakuran kali ini bukan tentang gegap gempita, melainkan momen introspeksi dan rasa syukur di usia ke-45 sang istri. Kontras antara jabatan formal dan latar kafe yang intim itu justru menambah kekhusyukan malam.
Kehadiran para keluarga besar serta rekan-rekan sejawat yang duduk melingkar semakin menghidupkan kebersamaan.
Namun, satu sosok membuat suasana berubah menjadi hening penuh khusyuk : Mbah Supangkat, tokoh sesepuh yang dipercaya memimpin doa. Langkahnya yang mantap menuju ujung meja menjadi isyarat bahwa tasyakuran ini akan bermakna lebih dalam.
Dengan suara lirih penuh haru, Aba Tarji mengawali sambutannya. Ia mengaku bahwa di usianya yang terus bertambah, kehadiran Darti adalah anugerah tak ternilai.
“Tasyakuran kecil ini adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari jabatan, tetapi dari doa yang dipanjatkan di meja makan bersama,” ujarnya, diselingi isak haru sejumlah undangan.
Mbah Supangkat, yang mengenakan kemeja hitam, lalu menyampaikan wejangan dengan suara parau namun tegas. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa menjaga sedekah dan tali silaturahmi.
“Perayaan bukanlah tentang megahnya hidangan, tapi tentang seberapa banyak tangan yang turut terangkat mendoakan,” petuahnya, yang langsung diamini oleh Aba Tarji dan keluarga.
Puncak haru terjadi ketika Darti, sang tokoh utama malam itu, berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dengan suara nyaris terputus, perempuan yang baru menginjak usia 45 tahun itu mengucapkan terima kasih kepada suaminya.
Ia mengakui bahwa di balik kesibukan Aba Tarji sebagai bendahara organisasi besar, kasih sayang sang suami tak pernah redup.
Hingga malam, doa demi doa terus dipanjatkan di Café Ay. Sebuah perayaan sederhana yang sarat makna: mengingatkan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia dan jabatan, merayakan cinta dan usia seseorang cukup dimulai dari ketulusan doa dan segelas kopi hangat serta makanan khas di desa.($@n)











