PASURUAN | KABAR PRESISI – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, semesta seolah tengah berpihak pada para pedagang. Keberkahan melimpah ruah, tak pandang bulu. Mulai dari penjual ayam potong, rempah-rempah dapur, hingga pedagang kue kering dan jajanan khas Lebaran, semuanya merasakan manisnya rezeki di penghujung Ramadhan.
Namun, berkah itu tak hanya singgah di lapak-lapak pasar. Di sebuah sudut pedesaan, seorang tukang cukur sederhana pun kebanjiran berkah.
Pemandangan tak biasa terlihat di Jalan Sukorejo, tepatnya di Desa Pakukerto, Kecamatan Sukorejo, arah menuju Taman Safari. Sejak pagi hingga larut malam, puluhan warga terlihat berjajar rapi, duduk bersabar menanti giliran.
Mereka bukan mengantre untuk membeli sembako atau tiket, melainkan untuk merapikan rambut. Satu-satunya tujuan mereka adalah kursi potong milik Muklis, seorang tukang cukur langganan yang kini menjadi primadona di kampungnya.
Suasana tampak riuh namun penuh kekeluargaan. Gunting-gunting di tangan Muklis tak henti-hentinya bekerja. Jemarinya lincah membelah rambut-rambut yang sudah mulai panjang. Muklis pun tampak kewalahan menghadapi serbuan pelanggan yang membludak. Namun, senyumnya tak lekang oleh panas. Baginya, momen ini adalah anugerah yang datang setahun sekali.
Meski letih, Muklis menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan. Ia tak ingin menyia-nyiakan keberkatan yang tengah berpihak padanya. Dalam sela-sela kesibukannya, Muklis menyempatkan diri untuk berbicara.
“Aku jalani aja dengan enjoy. Ini kan rezeki dari Tuhan, sebuah keberkahan yang sangat besar. Satu hari ini, perkiraan saya bisa sampai 45 orang. Kadang saya harus melayani potong sampai jam setengah dua malam. Mau gak mau harus saya layani, karena momen-momen kayak gini cuma setahun sekali,” papar pria yang berdomisili di Desa Cendono, Purwosari, dengan napas tersengal namun mata berbinar bahagia.
Di tengah antrean, tampak Jarot, salah seorang pelanggan setia yang sudah tak asing lagi dengan kursi potong Muklis. Meski harus menunggu berjam-jam, ia memilih bersabar. Menurutnya, tak lengkap rasanya menyambut Idul Fitri tanpa potong rambut di tempat langganan.
”Harus sabar lah demi bisa potong di sini. Hari Raya udah detik-detik terakhir, gak mungkin Lebaran dengan rambut gondrong. Mau gak mau harus antri. Yang penting hasilnya rapi,” ujar Jarot sambil tersenyum pasrah di tengah kerumunan, Kamis (19/03/2026).
Keberkahan menjelang Lebaran memang tak selalu berbentuk materi. Bagi Muklis, kepercayaan puluhan pelanggan yang rela mengantre panjang adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan hari kemenangan, kursi potong sederhana miliknya telah menjadi saksi bisu bahwa rezeki dan senyum bahagia bisa hadir dari mana saja.($@n)











