banner 500x300

“Tak Kuasa Menahan Kagum, Agus Suyanto Beri Standing Ovation untuk Grup Patrol Karangrejo di Hutan Cempaka”

banner 500x300

PASURUAN | KABARPRESISI – Gemuruh kendang dan alunan campursari modern mengguncang setiap sudut Wana Wisata Hutan Cempaka. Sabtu (4/4/2026) malam, ribuan pasang mata tak berkedip. Bukan sekadar hutan yang berbicara, tapi Rimba Berirama benar-benar menyapa jiwa.

Pasuruan Forest Fest 2026 sukses digelar megah dan inovatif. Berlokasi di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, acara yang digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan ini mengusung tema yang hidup: “Rimba Berirama, Pariwisata Menyapa” .

Tema itu seolah terbukti nyata ketika panggung utama tepat di depan Kedai Hutan Cempaka menjelma menjadi lautan energi seni.

Namun, satu penampilan sukses mencuri seluruh perhatian. Grup Patrol Campursari Teras Langit asal Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari, tampil memukau, magis, dan tak terlupakan.

Baca Juga :  ‎Makanan Diduga Basi, Program MBG di Pasuruan Dikeluhkan Siswa dan Ditindaklanjuti AJPB

Bertindak sebagai opening act performer sebelum seremoni pembukaan dan awarding, grup yang digawangi oleh “Cak Surem” ini tidak tampil setengah hati.

Mereka menggandeng dua diva papan atas: Fanesha Anggi KDI dan Dina Safara. Suara mereka menyatu dengan hentakan patrol tradisional yang dikolaborasi dengan alat musik modern.

Harmoni itu bukan sekadar hiburan itu adalah deklarasi: seni lokal bisa naik kelas tanpa kehilangan akar.

Dari kursi kehormatan, para tamu VIP pun ikut bersorak. Jajaran dinas, Direktur Kaliandra Resort, Direktur Hutan Cempaka, komunitas pecinta hutan, komunitas ojek online, hingga Kepala Desa Dayurejo semua terpukau.

Tak ketinggalan, anggota dewan yang dikenal sebagai pemerhati pelaku seni, Agus Suyanto, Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, tampak tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Baca Juga :  Wujudkan Pelayanan Bersih, Dirjen Pas Tegaskan Pengelolaan Fasilitas dan Makanan Warga Binaan

“Ini terobosan yang luar biasa inovatif. Tapak tilas wisata dan kompetisi pemandu wisata muda harus jadi agenda rutin. Tapi yang paling membuat saya merinding tadi ya grup patrol itu.

Alat tradisional dikolaborasi dengan modern, menciptakan harmoni suara yang indah. Seperti menikmati jajanan pasar, tapi dalam kemasan megah,” ujar Agus diselingi canda.

Kekaguman serupa meluncur dari Warda, seorang pengunjung asal Surabaya yang duduk santai di kafe Cempaka.

“Acaranya keren banget. Saya sudah beberapa kali ke sini, tapi malam ini beda. Patrol tadi itu unik, harus terus dilestarikan. Lagunya juga banyak petuah dan nasihat hidup. Pokoknya keren!” ucapnya dengan mata berbinar.

Bukan hanya patrol yang membuat malam itu bersejarah. Rangkaian acara terus berlanjut hingga larut: kesenian musik tradisional, seni drama tari, penampilan akustik dari Noe Coustic, hingga dentuman modern dari DJ Moheet.

Baca Juga :  Truk Sumbu Tiga Dilarang Melintas di Jalur Mudik Pasuruan Demi Kelancaran Arus Lebaran 2026

Para pengunjung diajak bernyanyi dan menari menghabiskan malam Minggu dengan cara yang paling liar sekaligus paling bermakna: di tengah hutan Cempaka Prigen.

Dan di antara semua gemerlap itu, satu pesan tersirat: Pasuruan tidak hanya punya hutan, tapi juga irama yang takkan pernah padam.($@n/Din)