PASURUAN | KABAR PRESISI – Hujan rintik-rintik membasahi lapangan apel, seolah alam ikut meratap pada sebuah perpisahan. Di bawah langit kelabu, Kamis (15/01/2026) sore, suasana haru dan khidmat menyelimuti upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kapolres Pasuruan.
Namun, ini bukan sekadar upacara biasa. Ritual kuno Tradisi Pedang Pora, dengan dentingan pisau pusaka penuh simbol, mengawali drama peralihan kepemimpinan yang menyentuh relung hati.
Pisau itu berpindah tangan, mengiringi langkah berat AKBP Jazuli Dani Irawan S.I.K., M.Tr. (Opsla.), menyerahkan tongkat komando kepada penerusnya, AKBP Harto Agung Cahyono, S.H., S.I.K., M.H.., Estafet kepemimpinan resmi bergulir. Namun, puncak drama justru datang dari pidato perpisahan sang mantan Kapolres.
Suara Jazuli bergetar, penuh beban dan rasa syukur. “Tanpa dukungan dari rekan-rekan semua, tentunya saya tidak mungkin bisa berbuat jauh,” ucapnya di hadapan barisan personel yang tegap namun diam membisu.
Lalu, datanglah momen yang mencekam hati. Dengan kepala tertunduk, pria yang telah memimpin itu memohon maaf dengan ketulusan yang mengguncang.
“Saya mohon keikhlasan dari rekan semua untuk mau memaafkan, apabila saya dan keluarga ada salah kata, ada kesalahan yang tidak saya sadari,” imbuhnya.
Suasana hening seketika, hanya desau angin dan rintik hujan yang menjadi saksi. Ia menggambarkan masa jabatannya bagai ‘panggung sandiwara’ di mana tirai kini telah ditutup.
“Mudah-mudahan kita semua diberikan barokah, kesehatan, keselamatan,” harapnya, menitipkan doa untuk Pasuruan yang lebih baik di bawah pimpinan baru.
Seolah alam merespons, rintikan hujan pun turut berbicara. Dalam sambutannya, Kapolres baru, AKBP Harto Agung Cahyono, menyebut hujan itu sebagai ‘kode alam’.
“Mudah-mudahan ke depan kita ini semuanya…” katanya, meminta seluruh personel mengantarkan seniornya dengan kehormatan terakhir.
“Hujan ini waktu yang mustajab untuk mendoakan. Semoga senior kami diberikan kesehatan dan sukses sampai menjadi jenderal,” ujar Harto, mengajak menjaga kekompakan dan soliditas.
Ritual selesai, namun drama belum usai. Saat apel resmi berakhir dan AKBP Jazuli berjalan perlau menyusuri barisan personel untuk berpamitan, dinding kekuatan itu pun runtuh.
Isak tangis tak terbendung pecah dari sejumlah anggota. Jabat tangan erat, pelukan singkat, dan mata yang berkaca-kaca menjadi penutup episode kepemimpinan ini.
Tradisi Pedang Pora dan Sertijab hari itu jauh melampaui formalitas birokrasi. Ia menjadi ritual peralihan jiwa, sebuah drama manusiawi yang mengukuhkan ikatan batin, merajut permintaan maaf dan doa, serta meneguhkan komitmen abadi untuk mengabdi pada masyarakat Pasuruan.
Di antara denting pedang dan rintik hujan, yang tersisa adalah air mata kepergian dan harapan untuk awal yang baru.($@n)












