PASURUAN | KABAR PRESISI – Yayasan Generasi Putra Bangsa Nasional, bersama para relawan dari Pro Garda Indonesia Bersatu (PROGIB), secara resmi membuka Satuan Pelayanan Penanganan Gizi (SPPG) Kertosari #003. Peresmian berlangsung pada Sabtu (10/1) pagi di Desa Kertosari, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, yang berlokasi di bekas rumah makan Padang di Jalan Raya Malang-Surabaya.
Acara grand opening dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, antara lain Dandim 0819/Pasuruan Letkol Inf Boga Bramiko, M.Han; Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi Gerindra Juma’in; Camat Purwosari Munif Tri Atmoko; Danramil Purwosari Kapten Mukrab; Kapolsek Purwosari Iptu Santi Wijaya Soemardi; Ketua DPW Jatim PROGIB Priono Soemardi Maryono; Kades Kertosari Abdul Rohim; serta Ketua SPPG setempat, Atik Normalinda.
Dalam sambutannya, Dandim 0819/Pasuruan, Letkol Inf Boga Bramiko, M.Han, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap program strategis nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto ini.
Ia mengungkapkan, SPPG Kertosari merupakan yang ke-40 lebih di wilayah Pasuruan, dengan target akan bertambah hingga sekitar 150 unit.
“Program ini sudah berjalan lebih dari setahun dan akan terus mengalir. Tujuan akhirnya adalah agar seluruh penerima manfaat di Pasuruan tercukupi oleh layanan SPPG,” ujar Dandim Boga Bramiko.
Dandim menekankan pentingnya kolaborasi dan kualitas dalam pelaksanaan program. Ia menyoroti peran vital setiap relawan, mulai dari pengelola dapur hingga yang bertugas mencuci peralatan, untuk memastikan makanan yang disajikan steril, bergizi, dan disukai anak-anak.
“Bekerjalah dengan hati. Outputnya adalah menu makanan yang enak, bergizi, dan menyenangkan bagi anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui, sehingga kedatangan mobil pengantar makanan dinanti-nanti seperti ‘mobil senyum’,” pesannya.
Menanggapi sejumlah pemberitaan negatif di media sosial terkait insiden tertentu pada program SPPG, Dandim Boga Bramiko mengajak semua pihak untuk melihat capaian program secara utuh. Ia mengibaratkan, jika program ini seperti uang satu miliar rupiah, maka masalah yang terjadi hanya setara dengan 3.000 rupiah yang cacat.
“Itu artinya tingkat keberhasilannya 99,9997%. Tidak ada program di dunia yang mendekati kesempurnaan 100%. Presiden kita ingin menyentuh lapisan terdalam masyarakat. Mari kita viralkan kebahagiaan anak-anak yang tercukupi gizinya,” ajaknya.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dua arah antara pengelola SPPG dan penerima manfaat. Kritik atau masukan dari guru atau orang tua murid disebutnya sebagai “surat cinta” yang berharga untuk perbaikan layanan.
Ke depan, Dandim menyampaikan akan ada aturan baru untuk lebih memberdayakan ekonomi lokal, seperti penggunaan kemasan produk UMKM setempat dan pengembangan Koperasi Merah Putih di setiap desa. Hal ini diharapkan dapat menciptakan siklus ekonomi yang positif bagi petani, peternak, dan pedagang di sekitar SPPG.
“Peluang ini sangat terbuka. Berapapun kemampuan masyarakat, baik dalam memproduksi telur, sayur, atau bahan lainnya, akan diserap oleh kebutuhan SPPG yang terus berkembang,” pungkasnya.
Acara peresmian diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan lagu “Bagimu Negeri”, meneguhkan semangat pengabdian untuk negeri dalam program penanganan gizi nasional ini.($@n)












